Paijo & Sastro
Met mbaca, moga berkah, bermanfaat, dll yang berpositif. Maturnuwun. Rahayu, Jum'at Kliwon.
Paijo: Cuk, Nissa dukung nomor 2. Gimana itu?
Sastro: Lha terus aku kudu piye? Orang lakonnya sudah begitu, ndak bisa protes, ndak bisa ngelawan. Udah banyak kan yang di nomor 1. Sekali-kali lah...nomor 2 gitu. Heuheuheu.
Paijo: Makin mumet aku cuk, apalagi soal: reklamasi, bebas bersyarat, btp, dll
Sastro: Lha kowe kok mumet-mumet. Ada hal yang pengen aku katakan tentang keseimbangan jagat raya, tapi ini di tempat umum, cuk, yang pengen aku katakan bukan makanan umum. Heuheuheu.
Paijo: Ya wes, ngopi dan rokok'an wae.
Sastro: Kamu ini gimana, saking mumetnya mikir sampe lupa aku dari dulu ndak doyan rokok dan saat ini aku lagi ndak ngopi yoo. Tapi bukan berarti aku golput ya. Heuheuheu.
Paijo: Oiya, lali aku, cuk. Sori-sori. Milih opo ora kan yang jadi presiden sudah tertulis di Lauh Mahfudz, ya?
Sastro: Lha bocah iki, setengah kopling. Kamu tadi minum apa cuk? Congyang semarangan? Omonganmu itu kabur kanginan, untung ngomongnya didepanku, kalau didepan mereka berdua, satu dan dua, mereka pada gak setuju, karena mereka masuk dalam sabda tak tertulis. Heuheuheu.
Paijo: Cangkemmu, cuk. Satu dan dua itu ceto tiga jawabnya. Dan kesemuanya itu ndak bakal ketuker, ndak bakal kurang, ndak bakal tambah, ngono to?
Sastro: Yo mesti, termasuk tingkahmu ndekemi anaknya pak lurah. Kalau bukan jodohmu ya udah, emang bukan. Jangan terus sukanya bikin status "Jomblo. Sakit hati karena bertahun-tahun jagain jodoh orang." kalau gitu, itu namanya kamu ndak bersyukur, bener ora?
Paijo: Iyo cuk, iyo. Jangan bahas-bahas pak lurah lagi. Aku malu, lah. Orang aku anak pinggiran.
Sastro: Ya wes, berarti kamu harus bersyukur, karena mungkin 1:10000000--- sak entek'e nol, orang yang dipercaya Tuhan untuk menjaga anak pak lurah itu, yang terbaek dan satu-satunya hanyalah kamu, cuk. Waspadalah-waspadalah, Tuhan Maha Guyon. Mari tersenyum kepada Tuhan.
Gabung dalam percakapan