Kolor
Heuheuheu. Dulu guruku pernah bercerita perihal dirinya ketika pertama kali bertemu dengan besannya saat ini, bermula ketika putri pertamanya yang tidak biasa di anterin seorang laki-laki ke rumah. Tidak perduli siapapun yang nganterin ketika itu, laki-laki tersebut di beri pesan agar orang tuanya datang ke rumah guruku. Beberapa hari menjelang, sikap guruku terlihat aneh, ia cukup sering menyendiri, menjadi pelupa dan sering melamun. Hingga hari kedatangan besannya saat ini tiba, guruku masih saja sama. Tepat pada hari laki-laki itu tiba dengan orang tuanya, guruku hanya mengenakan celana kolor. Di sebabkan ternyata jam begitu mendadak, tidak sempat berganti celana atau memakai baju juga masih dalam keadaan yang sama seperti kemarin-kemarin. Guruku mempersilakan tamunya masuk dan duduk. Dalam keadaan itu yang juga cukup lama, guruku sempat berpamitan untuk mengenakan baju dan celana. Namun hingga perbincangan berakhir, guruku hanya manggut-manggut, setuju serta tak lebih dari itu. Konon, guruku mencoba menjelaskannya bahwa ketika itu dirinya merasa seperti sedang remuk. Hari yang dulu sudah sempat ia bayangkan benar-benar terjadi, hari di mana 25 tahun terasa seperti hanya 25 menit saja. Hari di mana susah dan senang bersama putri pertamanya akan segera berakhir. Rasanya baru hari kemarin ia menimang-nimang putrinya, bernyanyi untuk putri pertamanya di kala senja saat sedang menangis. Ia gendong-gendong sampai malam, bahkan hingga mentari mengintip kembali. Ia membanting tulang setiap waktu hanya untuk membahagiakan putrinya, mengantarnya ke gerbang pintu sekolah, tertawa bersama. Namun hari itu akan segera berakhir...
Gabung dalam percakapan