Sumber

Ki Demang & Murid-muridnya #25

Senja mulai menyambangi desa sukacita. Budi, made, putri, dan ayu masih terlihat ceria menghafal sebuah lagu di bawah pohon beringin. 

"Oh, ibu dan ayah, selamat pagi"

"Kupergi sekolah sampai kan nanti"

"...."


Lagu yang mereka hafal untuk pembukaan acara di sekolahnya itu merupakan kesempatan yang luar biasa. Karena besok akan di adakan pentas seni di sekolahnya yang mana di ikuti oleh berbagai sekolah, usia dan tentunya beraneka ragam judul. Budi sebenarnya masih penasaran dengan drama apa yang akan di tampilkan sekolahnya mengingat sebagai tuan rumah, tentunya akan berusaha semaksimal mungkin dalam menampilkan pertunjukan. Beberapa temannya masih tampak sibuk dengan alat tulis yang mereka gunakan.


Putri yang mempunyai karakter cerewet ini tampak bergegas mengemasi peralatannya, seakan tidak mengetahui bahwa beberapa temannya kompak sedang memperhatikan.


"Apa lihat-lihat?!" Bentaknya dengan mata jelalatan. Made menjawab dengan tenang "Apakah kamu tergesa-gesa putri? Tidak seperti biasanya."


"Iya, maaf ya semua. Aku pulang lebih dulu, karena ibuku sedang banyak menerima pesanan snack." Jawaban singkat dan jelas dari anak tukang katering ini.


"Wah, jangan-jangan pesanan dari sekolah ya?" Jawab ayu di iringi tawa oleh teman-temannya.


"Ehh, putri. Jangan pulang dulu, bagaimana kalau nanti malam kita main ke rumahmu saja. Sambil bantu ibu kamu menata snack yang akan di kirim ke sekolah. Bagaimana teman-teman, setuju?" Tukas budi yang langsung bergegas dari tempat duduknya di iringi jawaban penuh semangat oleh teman-temannya "Setuujuuu" Jawab seluruhnya dengan kompak.


"Budi pasti ada maunya..iya kan, iya kan" ayu yang lagaknya sok genit segera menyambung jawabnya.


"Iya, aku penasaran sedari tadi kita hafalkan lagu pembukaan itu. Kenapa harus lagu itu? Bukanya masih banyak lagu-lagu lain, semisal jaran goyang, sayang, bojo nakal gitu ya?" Di balas tawa oleh teman-temannya.


"Eh, kamu ini gila ya bud. Kan kita masih kecil kenapa harus menyanyikan lagu untuk orang dewasa?!" Putri tampak mulai panas. "Bukanya sekarang tidak ada sekat antara kecil, remaja, dewasa dan tua?" Jawab made.


Sambil menyisir rambutnya ayu menjawab "Ah, itu cuma perasaan kalian saja. Buktinya kita masih mendapatkan pengajaran lagu itu tadi. Bukanya ibu dan bapak guru secara tidak langsung telah mengajarkannya bukan?" 


"Padahal lagu yang kita hafalkan penuh akan makna loh, khususnya ya untuk anak-anak seumuran kita. Bahkan aku rasa saat kita sudah dewasa juga bisa mengambil pesan-pesan dari lagu tersebut. Dari pada cuma teriak-teriak buka sitik jos, oa-oe, tak-tung tak-tung. Iya kan?" Budi mencoba mengeluarkan isi yang ada di otaknya.


"Iya sih bud, cuma kan ya lagu-lagu yang sedang populer itu tetap akan sarat makna. Tidak mungkin tanpa ada makna di baliknya lagu itu bisa populer seperti ini. Haha"


"Lalu jika lagu yang kita hafalkan terdapat makna yang dalam. Berarti lagu yang sedang populer itu tidak kalah dalamnya?. Bagaimana kamu akan menjelaskan kepada kita made?" Jawab putri punuh selidik.


"Kalau menurutku sih itu kembali kepada didikan orang tua yang paling utama, put. Maksudnya untuk menjelaskan isi dan pesannya kepada anak-anaknya" Jawab budi. "Bisa jadi memang begitu bud, aku setuju" Balas made yang masih tampak mengerutkan dahi sambil manggut-manggut.


"Bukan, bukan. Itu bukan jawaban sesungguhnya dari made. Kita kan sudah lama kenal dia. Dia memang penuh misteri." Bukanya mendapat dukungan, ayu justru mendapat sindirian dari teman-temanya. "Cie...cie."

"Ada yang mulai punya rasa ini di antara kita..." Putri langsung membalasnya. "Bagus dong sudah saling kenal jauh haha" Made menimpalinya. "Kita kan memang harus mempunyai rasa kepada siapapun dan apapun latar belakangnya, seperti yang bapak dan ibu guru ajarkan kepada kita di sekolah." Jawab budi untuk mencairkan suasana.


"Iya...iya" jawab ayu dan putri kompak.


"Ehm, bukan masalah lagu yang memenuhi segala ruang otakku. Akan tetapi cerita dan drama apa yang akan di tampilkan sekolah kita? Apabila drama itu seperti 'pesan titipan bapak', 'ganteng-ganteng anak pintar', 'anak matematik', 'siswa ketiga' dll mengapa lagu pembukanya seperti yang kita hafal, ada yang mengetahui cerita dan dramanya?"


"Mungkin dramanya dengan tema yang sama bud, jadi judulnya kan bisa saja berbeda-beda" Seketika made menjawabnya, seolah tidak perlu berpikir panjang.


"Setuju, mungkin juga lagu itu untuk mengawali tema yang akan di pentaskan dari berbagai sekolah." Balas ayu.


"Jadi temanya apa dong? Contoh judulnya seperti apa juga? Atau mungkin sudah ada yang memikirkan dramanya bakal seperti apa?" Putri masih dengan sikapnya yang cerewet.


"Kalau menurut satu tema saja sudah bisa menjadi ribuan judul, bahkan jutaan judul. Berarti yang di katakan budi tadi bisa juga benar, ada yang memakai judul itu. Akan tetapi nantinya yang utama bukan saja tema atau judulnya. Di sana akan ada juga seseorang yang membawakannya, sebut saja namanya peran. Itu sih yang terlintas di pikiranku saat ini". Made mencoba menjelaskan.


"Dengan kata lain satu tema tadi dapat melahirkan banyak judul. Dan dari judul itu melahirkan banyak peran. Artinya kita bukan hanya melihat tema dan judul lagi. Tapi kita akan melihat peran. Peran-peran dari masing-masing tokohnya." Jawab putri dengan cepat.


"Sok yes kamu put, ahaaa. Aku jadi ingat kakekku dulu pernah berkata 'Tidak perlu minder dengan yang kamu punya sekarang karena kamu di lahirkan dari keluarga sederhana. Kamu dan mereka hanya berbeda kesempatan saja'. Artinya kakek berbicara kepadaku bahwa aku ini memerankan dari tokoh ayu."


"Kalau ayu memerankan tokohnya, berarti aku, made dan putri juga sama dong?" Budi terpaksa mengeluarkan apa yang sudah ia telaah dari pembicaraan ini.


"Bisa jadi begitu bud" Seperti biasa made menjawab.

"Yeee! Jadi kalian sekarang jangan suka menyebut aku cerewet lah, kampungan lah, ini lah, itulah, hanya saja kalian memerankan peran sebagai kalian saat ini hahaha" Jawab puteri tampak kegirangan.


"Berarti...." Ayu dan putri berkata sambil berpandangan.

"Sebentaar...!" Made langsung memotong.

"Pasti kalian akan bilang, bahwa yang di tanyakan budi sudah ada jawabannya. Haha aku tau." 

"Yah, kita keduluan put".


Setiap yang ada di semesta bakal mengisi peran dan tokohnya masing-masing. Akan memakai bentuk dan caranya masing-masing. Kita tidak perlu membedakan antara satu dan yang lain. Karena bila kita tarik garis lurus maka kita sebenarnya di lahirkan dari sutradara yang sama. Hanya saja untuk kita dapat memerankan tokoh yang kita bawa harus melewati tahapannya masing-masing. Seperti halnya seorang guru. Bapak dan ibu guru bila berada di sekolah akan sedikit berbeda jika berada di rumah. Karena beliau di sekolah sedang memerankan tokohnya sebagai guru, guru dengan semestinya, mengajar dan mendidik siapapun, bagaimana pun karakternya, tanpa membedakan anak kandung dan orang lain, semua harus mendapat porsi yang cukup dan adil. Pun dengan orang tua, orang tua yang baik akan selalu mendidik dan mengarahkan anaknya. Akan mengajarkan apa yang mudah di cerna oleh buah hatinya.


Sebagaimana dengan budi, made, putri dan ayu.

Mereka tidak akan pernah bisa menjadi salah satu dari temannya. Karena itu sudah menjadi tokoh yang cocok untuk di perankan oleh masing-masing dari mereka. Itu akan sama dengan drama yang akan mereka lihat di sekolahnya. Sutradara akan memilih orang-orang yang sesuai dengan naskah yang sudah tersedia. Putri dengan karakternya yang cerewet tidak akan bisa selalu seperti ayu yang sedikit berbicara namun genit, sebaliknya dengan ayu tidak akan pernah bisa selalu seperti putri yang cerewet.


Masing-masing dari mereka akan membawa perannya. Sebagai seorang yang tenang seperti made, banyak berpikir dan bertanya seperti budi. Sutradara tidak akan pernah memerankan tokoh dan peranan yang sama dalam satu judul. Karena itu akan terlihat kurang menarik.


Kita sebagai seorang tokoh sekaligus pemeran sudah seharusnya untuk melihat dan memahami apapun yang di perankan oleh seorang tokoh lain dengan obyektif. Dengan selalu mengingat bahwa kita tidak akan pernah lepas dari Sutradara yang telah mengatur kita.



Teks asli di publikasikan pada tanggal 26 Januari 2018.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!