Sumber

Tentang Do'a, Kenangan, Kebijaksanaan



Tiada kangen yang lebih indah selain mengirim do'a kepada orang yang di rindukan.

Ini sebenarnya pembenaran karena aku tak punya apa-apa selain do'aku yang tulus untukmu. Oiya, beserta adik kecil juga. Meski kita tak pernah bertatapan, tetapi kehadiranmu pada dimensi yang lain merupakan suatu pesan. Tak apa, lagian do'a. Al Fatihah untuk kalian berdua.

Bagaimana, Dek, di sana? Apakah sama? Ada bunga-bunga yang indah juga? Hari ini, aku kembali ke tempat masa kecilku di tempa oleh waktu dan keadaan. Mungkin, seumuranmu dulu, aku sudah tiap minggu makan terjal serta panasnya terik matahari bersama barang-barang bawaanku. Mungkin itu juga kenapa saat aku dahulu pernah di tes lari di jalan Sigar Bencah, ia terkaget-kaget. Tak hanya lari, aku malah mengejar ia yang naik motor. Konon, aku adalah orang yang pertama kali ia jumpai seperti ini. Karena sebelumnya selalu tertinggal jauh, ngos-ngosan dan menyerah.

Tapi, kamu sudah sempat lihat Sigar Bencah gak sih? Pasti belum, ya? Mbakmu aja mungkin juga belum, atau mungkin sudah pernah tapi tidak tahu nama jalan. Yaa, begitulah manusia, terkadang kita pernah tetapi tidak tahu.

Yaa, karena bunga-bunga di hutan inilah aku jadi suka bunga, apapun itu. Di hutan yang terkadang tidak di urus oleh manusia, tumbuhlah bunga-bunga yang indah memesona. Di antara ilalang dan tanaman liar lain. Tiap tanaman menunjukkan eksistensinya. Mereka berlomba-lomba menjulang tinggi ke langit, meski mereka tak pernah tahu bahwa atap dunia ini saja sudah cukup tinggi. Bagaimana jika langitpun ada tujuh? Tetapi bukankah begitulah cita-cita? Harus setinggi mungkin. Meski ternyata, tinggi itu subjektif bagi sebagian orang.

Mungkin, kamu memang datang sebagai pesan bahwa aku tak boleh mendekati Kakakmu, ya, Dek. Tidak apa, loh. Bukan berarti aku juga harus menanggalkan do'aku untukmu, untuk Kakakmu juga, kan? Saat hujan saja, ia tak pernah memilah dan memilih tanaman mana yang akan di siram. Tetapi semuanya. Waaah, mungkin, inilah kebijaksanaan yang pernah di ajarkan Konfusius juga. Terkadang, kita tidak boleh sakit hati atas segala sesuatu yang menimpa kita. Justru dari hal tersebut kita harus belajar untuk tumbuh dan mekar. Ya, Dek, ya?

Kalau di sana engkau pernah berjumpa dengan Konfusius, salamkan salamku untuknya ya. Beliau adalah deretan orang-orang yang aku kagumi. Tentu saja selain Kakakmu yang aku kagumi. Ternyata, setiap apa yang kita kagumi juga tidak harus di miliki, bukankah begitu, Dek? Oiya, do'akan Kakakmu juga, ya. Sama Ibumu. Dalam hidup, ternyata kita juga harus saling mendo'akan. Waaah, sampai lupa, bahwa prolog tulisan ini sudah begitu. :-)

Begitulah hidup.
Sampai jumpa pada suatu hari nanti ....
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!