Sumber

Sitayana: Luka & Cinta



Kakanda, mengapa kakanda dengan tandas menulis surat yang menyudutkanku dan menganggapku selingkuh dengan Rahwana? Apakah surat itu kakanda tulis dengan kesungguhan dan kesadaran yang paripurna? Apakah kakanda tidak ingat lagi bahwa kita telah melewati berbagai tahun yang penuh tantangan serta bahaya?

Air mataku tak kuasa lagi aku bendung ketika membaca isi suratmu, kakanda. Deras menetes bagai kucuran darah di medan peperangan. Orang yang sejauh ini paling aku percaya dan menjadi tempatku bercerita tentang tragisnya dunia malah menghinaku dengan mencabik-cabik hatiku.


Di sini aku memang di perlakukan bak putri kerajaan, kakanda. Semua hal yang aku mau mereka berikan dan bahkan mereka memberikanku banyak pelayan terampil supaya aku tak pernah kesepian. Hanya saja, aku tidak diperbolehkan keluar dari gerbang istana yang megah ini.


Selain memberikanku pelayan-pelayan yang terampil, Rahwana juga membuatkanku taman-taman indah yang bunganya ia datangkan dari penjuru dunia, kakanda. Bertembok batu mulia, beratap emas, berlantai pualam dan pernak-pernik langka yang sengaja ia beli hanya untukku. Semuanya untuk apa, kakanda? Segala kemegahan dan keindahan ini agar aku dapat melupakanmu. Tetapi, apakah aku terperosok dalam jurang yang ngeri itu? Tidak. Malahan setiap malam yang hanya ada aku di taman itu, ku ukir dindingnya, lantainya dengan nama-namamu yang telah abadi dalam jiwaku.


Meski begitu, aku tetap saja kesepian menjadi sandera cinta Rahwana, kakanda. Apakah kakanda tak ingat aku pernah berkata bahwa selingkuh itu tak perlu berkirim surat, tak perlu ketemuan, tak perlu bergandengan tangan dan seterusnya. Terlebih hanya kontak mata saja itu sudah termasuk selingkuh serta yang lebih parah adalah memikirkan lawan jenis dalam kesunyian malam juga termasuk selingkuh. Apakah kakanda benar-benar tidak ingat akan perkataanku ini?


Setiap saat aku memikirkan kakanda, aku bangun gagah rupa dan nama kakanda dalam hati serta jiwaku, namun malahan kakanda menghinaku seperti ini. Seseorang mana di dunia manapun yang melakukan tindakan konyol umpama ini, kakanda?


Dengan hati yang telah beku dan darahku nan dingin, Rahwana tak pernah mendekatiku atau mengirim surat kepadaku. Setiap saat ia hanya bertanya pada pelayan-pelayanku di dalam istananya sendiri tentang keadaanku. Meski ia membuatkan aku segala keindahan ini, tetapi kemudian ia memberikanku kunci yang hanya dapat di buka oleh satu kunci saja, artinya Rahwana tak dapat masuk tanpa sepengetahuanku.


Kakanda, apakah engkau setega itu menganggapku hina? Apabila suatu saat nanti Dewa menunjukkan kebenaran ini kepadamu, dengan kerendahan hatiku, mohonlah maaf dan pengampunan pada dirimu sendiri. Sebab aku tidak pernah tahu di mana pintu untuk ku buka dengan penghinaan semacam ini.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!