Sumber

Ki Demang & Murid-muridnya #26

Sehari setelah pertunjukan pentas seni di laksanakan di sekolah. Budi, made, ayu dan putri kembali masuk seperti biasanya. Kebetulan hari ini adalah mata pelajaran seni dan budaya, agaknya pada pertemuan hari ini bapak guru yang biasanya mengajar akan menjelaskan tata cara menggambar yang baik.

“Menurutmu bagaimana pertunjukan kemarin bud?” Tanya putri.
“Asyik, istimewa, dan banyak hal yang dapat kita dapatkan dari sana.” Jawab budi.
“Kalau aku sih, aku jadi punya banyak wawasan mengenai warna-warni kehidupan ini. Kamu kemarin lihat yang bapak petani dan anaknya itu tidak made?” Telisik ayu kepada made yang dari tadi mencorat-coret buku gambar kepunyaanya.
Belum sampai made menjawab, putri langsung menjawabnya. “Iya, aku kemarin sampai meneteskan air mata. Bagaimana jalan cerita seorang bapak untuk mewujudkan cita-cita anaknya yang begitu besar. Seketika aku mengingat ibu di rumah yang setiap hari sibuk dengan pekerjaannya untuk menghidupi keluarga.”
“Aku kemarin waktu sampai di adegan itu sungguh tidak tega. Lalu aku menutup mataku dan hanya mendengarkan dialognya saja. Aku tetap mencoba untuk menenangkan pikiran agar tidak terbawa suasana, tetapi tetap mengambil pesan yang ingin di sampaikan oleh sutradara melalui drama itu.” Jawab made.
“Yang masih aku ingat jelas kemarin adalah tentang drama ikan emas. Bahwa kita seolah-olah harus menjadi ikan, harus mengerti segala kehidupannya. Ini kan susah? Lebih-lebih kita tidak ada yang pernah menjadi ikan, iya kan?” Cerita budi dengan sikap detektifnya.
“Betul-betul, aku juga masih ingat cerita drama itu. Ternyata kita benar-benar di bawa menuju ke dunia perikanan. Apakah kalian tidak ingat? Ketika sang ikan ingin mencari makan pada waktu itu? Seolah masuk ke selokan, masuk ke dalam air yang berlumpur, pun itu menurutku seperti jauh dari tempatnya tinggal. Karena sang sutradara memberikan informasi ‘bebeapa mil kemudian’.” Putri menambahkan.
“Kalau aku mencerna kisah itu, seperti sang sutradara ingin menyampaikan bahwa kita tidak selayaknya membuang sampah di sembarang tempat, terlebih ke sungai atau aliran air lain yang di situ terdapat makhluk hidup juga, sebagai contoh ya ikan. Memang iya sampah-sampah yang kita buang tidak semua bersifat material/plastik lalu di situlah sampah organik itu menjadi salah satu sumber makanan ikan tersebut. Kita kan bisa melihat kala itu seolah banyak potongan-potongan plastik yang berterbangan?” Ayu tampak terseyum sendiri melihat penjelasan dari made.
“Ehm, ada yang mulai kegirangan nih bud” Jawab putri kilat.
“Wah, iya nih tumben. Mungkin ini jawaban yang selalu di nantikan oleh ayu dari made” Di susul gelak tawa teman-temannya.
“Nah, betulkan. Made yang kita kenal kan memang selalu seperti ini. Haha.” Balas ayu kemudian.
“Setuju made, apalagi dengan semakin sempitnya ekosistem untuk para ikan-ikan itu? Bayangkan saja sesuai cerita kemarin. Ikan-ikan itu harus menempuh jarak beberapa kilo untuk mendapatkan makanan meraka demi kelangsungan hidupnya. Sedangkan setelah sampai pada tempat tujuan, mereka pun hanya makan secukupnya bukan?” Jawab budi sambil melirik kearah putri yang seakan bersiap untuk melanjutkannya.
“Iya aku juga setuju dengan jawaban kalian, apalagi ikan-ikan itu tidak bisa membawa kresek dan tempat bawaan sejenis lain kan? Kalau kita kan bisa ke pasar, ke supermarket, di manapun dapat juga untuk membawa pulang? Tapi sedihnya justru kalau kresek-kresek tadi habis manis sepah di buang, di buang juga ke selokan dan tempat-tempat lain di mana ikan atau makhluk lain melangsungkan hidup” Sesal putri.

Selamat pagi anak-anak….di iringi jawaban seluruh isi kelas, ayu dan putri membetulkan tempat duduk masing-masing yang sedari tadi menghadap ke belakang tepat di meja budi dan made.

“Baik, silahkan berdo’a terlebih dahulu sesuai dengan Agama dan kepercayaan masing-masing.”
Kemudian di susul dengan beberapa penjelasasan materi pokok yang di sampaikan oleh bapak guru di depan kelas. Benar, hari ini adalah materi tentang menggambar.
Sebelum beliau mempraktekkan teknik menggambar, beliau bertanya kepada para siswa dan siswi.
“Bagaimana pertunjukan pentas seni kemarin di sekolah kita anak-anak?” Di iringi gemuruh dan jawaban dari masing-masing siswa dan siswi. 

Setelah beberapa siswa dan siswi menceritakan pengalamannya, di susul kemudian bapak guru kembali menjelaskan dengan sedikit goresan di papan tulis. Kelas terlihat sunyi karena anak-anak terlihat fokus dengan tarian tangan bapak guru di papan tulis.
“Sreeeek!” Beliau terhenti.
Tiba-tiba budi bertanya “Kenapa bapak berhenti pak?”
Sambil menoleh ke para siswa dan siswi, beliau mencoba menjelaskan maksudnya.
“Bagaimana kalau kita menggambar sesuai dengan yang anak-anak inginkan?”
Kemudian ayu menjawab pertanyaan gurunya tersebut “Tidak mau aku pak, karena aku suka menggambar boneka. Sedang made suka menggambar pemandangan alam, dan budi suka menggambar bentuk-bentuk benda pak.”
“begitupula aku dan teman-teman yang lain juga masih berbeda-beda kesukaanya pak.” Putri menambahkan.
“Tidak apa-apa, anak-anak. Mari kita mulai menggambar dan kita lihat setelah semua sudah selesai.”
Seketika seisi kelas seakan tidak percaya dengan jawaban bapak gurunya tersebut. Bagaimana bisa menggambar di satu papan tulis dengan berbagai bentuk rupa sehingga menjadi satu kesatuan yang dapat di cerna oleh para siswa dan siswi tersebut?
“Baik, kita mulai dari budi. Budi ingin bapak menggambar apa?”
“Persegi panjang, lingkaran, kubus dan segitiga sama sisi pak.” Jawab budi dengan penuh semangat. 
Terlihat bapak guru menggambar dengan seksama sesuai dengaan keinginan budi.
“Selanjutnya made, ingin bapak menggambar apa?
Made tampak hati-hati dalam memilih gambaran apa yang akan ia katakan. 
“Tempat yang asri di sertai sungai mengalir di sampingnya pak.”
“Wah agak rumit ya ini, tapi tidak apalah. Bapak akan mencoba menggambar apa yang kamu katakan”
Lama menunggu giliran, kini tibalah giliran ayu yang kemudian di susul teman sebangkaunya putri.
“Benar pula sesuai dengan dialog awal, ayu hanya meminta bapak guru menggambar sebuah boneka kucing.”
“Selanjutnya putri.
“Saya cukup menggambar bunga-bunga yang indah saja pak.”
Dan seterusnya hingga tersisa beberapa orang lagi, namun seisi kelas seakan masih tidak percaya dengan yang sedang mereka lihat saat ini. Ternyata dari beragam jawaban sekaligus keinginan para siswa dan siswi tadi, bapak guru dapat menggambar semua yang di katakan para siswa dan siswinya itu menjadi karya yang luar biasa tanpa mengurangi apa yang di katakan para muridnya.

Begitu giliran para siswa dan siswi sudah selesai, bapak guru menamai karyanya dengan “Ciptaan Tuhan.”

Seperti drama ikan-ikan yang budi dan teman-temannya ceritakan di atas. Kita semua mempunyai penokohannya masing-masing. Sebagaimana ikan yang tidak mempunyai kaki dan tangan, namun mampu berenang dengan hanya menggunakan sirip dan ekornya hingga beberapa mil jauhnya. Bapak dan anaknya yang mempunyai sikap pekerja keras serta pantang menyerah, yaitu di rupakan dalam wujud kasih, sayang dan ambisi yang beliau bawa untuk anaknya.

Akan tetapi kita sebagai makhluk yang biasa di katakana sempurna, bisa berenang, mempunyai tangan dan kaki, dapat berpikir dan sebagainya. Sudah saatnya kita dapat memimpin diri kita sendiri. Sehingga dapat di wujudkan dengan perilaku dan sikap dalam kesehariannya. Bukan hanya berpikir yang dapat menguntungkan untuk diri sendiri atau kelompok saja, tetapi juga tetap berpikir bagaimana kelangsungan makhluk hidup yang lain. Bekerja keras untuk menegakkan keadilan dan kedamaian bagi semesta.

Atau malah barang kali yang di maksud dengan Khilafah secara umum adalah seperti pada penjelasan di atas? Bukan menciptakan kegaduhan, memaksakan hak satu sama lain, dan lain sebagainya yang mengakibatkan kerusakan serta berakhir dengan saling membunuh di alam semesta? Karena kita di lahirkan dengan di beri akal untuk berpikir.

Sebagaimana tokoh ikan yang tidak akan bisa menjelma menjadi kucing untuk pergi ke perkampungan. Maka kitalah yang wajib menjaga keseimbangan ekosistemnya. Kita juga tidak dapat memaksakan ikan untuk bisa memanjat pohon seperti kera atau binatang lain yang mampu memanjat pohon. Akan tetapi kita tetap masih dapat hidup berdampingan dengan para ikan, kucing, kera dan lain sebagainya. Begitulah kira-kira bapak guru dalam cerita di atas mengajarkan dasar filosofi hidup dengan memakai peran para muridnya untuk berimajinasi. Karena tidak mungkin Tuhan menciptakan beraneka ragam kehidupan dari mikro kosmos hingga makro kosmos tanpa ada tujuan yang Dia inginkan.


Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!